Retail merupakan kegiatan pemasaran baik barang atau jasa secara eceran yang dijual kepada konsumen langsung. Dalam bisnis retail, retailer juga harus bisa melakukan edukasi sebuah produk. Toko retail juga memudahkan konsumen membeli dan memilih produk yang diinginkan. Retail juga harus memberikan layanan purna jual dan melayani keluhan konsumen.  Retailer juga dapat memberikan kredit atau program cicilan sebuah produk kepada konsumen.

Ada beberapa jenis bisnis retail. Berdasarkan kepemilikan dibedakan atas independent retail  firm seperti warung kaki lima, toko kelontong, ruko dll.  Selain itu ada franchise atau waralaba, corporate chain seperti pasar swalayan atau department store yang biasanya memakai sistem saham.

Berdasarkan produk yang dijual ada department store yang memiliki minimal 25 karyawan dan menjual produk rumah tangga dan pakaian minimal 20% dari total penjualan. Ada juga specialty store atau toko khusus, seperti toko yang khusus menjual komputer, madu, mainan anak, barang impor dll. Ada juga catalog showroom yaitu pengecer yang menjual barang lokal dengan harga rendah. Berikutnya adalah food and drug retailer yaitu pengecer yang menjual makanan minuman dan obat- obatan dengan jumlah besar dan harganya bersaing.

Berdasarkan servis ada rented goods service yaitu pengecer yang menyediakan produk tertentu kepada konsumen yang kepemilikannya tetap ada pada pengecer itu seperti penyewaan apartemen, penyewaan mobil, penyewaan chiller dll. Selain itu ada owned goods service yaitu pengecer yang menjual jasa reparasi barang-barang tertentu seperti bengkel, servis komputer dan printer, jasa perawatan taman dll. Ada juga non goods service yaitu pengecer yang menjual jasa personal yang tidak berbentuk produk fisik, seperti  penyedia jasa sopir, penyedia baby sitter, dll.

Berdasarkan non store retailing, ada telephone and media retailer yaitu pengecer yang menggunakan kontak melalui telepon, telemarketing,  media periklanan seperti koran, radio, televisi yang bisa membujuk konsumen untuk membeli produknya.  Ada mail order yaitu pengecer yang menawarkan produk melalui surat atau email . Selain itu ada vending machines yaitu menggunakan alat untuk menjual produk tertentu seperti mesin penjual minuman.  Berikutnya electronic shopping yaitu penjualan melalui market place. Ada juga direct selling yang menggunakan jasa salesman.

Berdasarkan strategi harga tiap retailer bisa saja menawarkan harga yang berbeda. Beberapa pengecer juga menawarkan sebuah produk dengan harga tinggi diikuti dengan pelayanan khusus yang menarik. Cara memasarkan produk seperti ini biasanya dilakukan oleh Specialty serta Department Store. Namun, beberapa pengecer juga lebih memilih menjual produk yang sama dengan harga yang lebih murah, umumnya Discount Store yang menerapkan metode pemasaran ini, yakni menjual barang-barang rumah tangga dengan harga diskon.

Berdasarkan lokasi, retail dibedakan menjadi  strip development (mal strip), merupakan lahan komersial yang dikembangkan sehingga seluruh orang itu memiliki akses langsung ke jalan serta area parkir. Berikutnya downtown central business districts, merupakan pusat bisnis serta komersial di suatu kota. Di kota-kota besar, kawasan tersebut biasanya identik dengan “distrik keuangan” (atau juga “kawasan finansial”) di kota tersebut. Selain itu ada shopping center, yaitu tempat yang memiliki fungsi sebagai tempat perdagangan eceran atau juga retail yang lokasinya itu digabung di satu bangunan atau komplek.

Story Telling

Bisnis retail menjual barang dalam jumlah satuan. Retail berbicara mengenai ekspose sesuatu yang besar. Misalnya kedai kopi dilengkapi dengan atribut fashion mengenai kopi. Selain itu buat story telling mengenai manfaat kopi  dan kelebihan kopi yang dijual. Produk yang dikemas dan diberikan story telling membuat konsumen merasa mendapatkan sesuatu yang luar biasa.

Bisnis retail juga berhadapan langsung dengan konsumen, sehingga harus memperhatikan konsumen dengan sangat baik. Bisnis retail harus cepat dan gampang, jangan sampai misalnya kedai kopi menyajikan kopi dalam waktu lama. Harus ada pemahaman mengenai persaingan harga di pasar tapi jangan ikut dalam arus price war. Lebih baik tambahkan value produk anda sehingga konsumen melihat produk anda jauh lebih baik dibanding kompetitor.  Selain itu lebih menarik jika menyediakan jasa layanan kepada konsumen.  Jadi gunakan prinsip konsultan, misalnya menanyakan konsumen mengenai kebutuhannya.

Dalam retail ada teknik eye level atau buying level, maka di supermarket biasanya produk di rak yang letaknya searah di depan mata harganya lebih mahal karena merupakan buying level. Berbeda dengan produk yang diletakkan di hand / mid level atau foot level yang lebih jarang dilihat. Ada juga produk yang diletakkan di top level, yaitu biasanya produk yang mereknya terkenal. Sewa rak di eye level biasanya paling mahal karena biasanya di situ titik pembelian terjadi. Produk yang diletakkan di meja kasir biasanya juga cukup laku.

Untuk mempromosikan dan menjual produk retail perlu jurus  push dan pull strategi. Dalam push marketing, idenya adalah untuk mempromosikan produk dengan membuat produk tersebut sampai ke konsumen. Bila itu dilakukan maka tampilan penjualan dan iming-iming buat pembeli di toko perlu diperhatikan. Sementara itu, dalam pull marketing, idenya adalah untuk membangun kesetiaan dan menarik konsumen terhadap sebuah produk.

Push marketing misalnya menjual barang dagangan secara langsung kepada pelanggan melalui showroom perusahaan dan bernegosiasi dengan pengecer untuk menjual produk mereka, atau mengatur point-of-sale. Untuk kepentingan tersebut, untuk meningkatkan visibilitas, seringkali pengecer menerima insentif penjualan khusus dalam bentuk pertukaran baik berupa uang maupun produk.

Salah satu contoh push marketing dapat dilihat di department store yang menjual parfum. Produsen parfum sering menawarkan insentif penjualan ke department store untuk mendorong produk-produknya ke pelanggan. Taktik ini bisa sangat bermanfaat bagi merek-merek baru yang belum mapan atau lini merek baru tertentu yang membutuhkan promosi tambahan. Secara keseluruhan, yang ditawarkan kepada banyak konsumen di toko adalah aroma parfum sehingga konsumen mendapatkan pengalaman pertama dan baru dengan produk. Asumsinya pengalaman tersebut diciptakan karena selama ini belum mengetahuinya.

Pull marketing mengambil pendekatan yang berlawanan. Tujuan pull marketing adalah membuat pelanggan mendatangi merek. Taktik penjualan umum yang biasa digunakan meliputi promosi melalui media massa, media sosial, word-of-mouth, dan iklan. Dari perspektif bisnis, pull marketing merupakan upaya menciptakan loyalitas merek dan membuat pelanggan datang kembali, sedangkan push marketing lebih ditujukan untuk penjualan jangka pendek.

Selain itu ada yang disebut akuisisi dan retensi. Akuisisi harus menggunakan advertising seperti billboard, media sosial , komunitas dan sebagainya yang bertujuan untuk menambah customer baru. Adapun retensi  menggunakan metode cerita baik atau testimoni sebuah produk. Untuk itu pebisnis harus menyayangi konsumen lama sehingga konsumen lama akan cerita kepada orang lain, dan untuk itu perlu pelayanan prima kepada konsumen.

 

Info tentang Bisnis Retail :

Djoko Kurniawan, Konsultan Bisnis, Pakar Waralaba/ Franchise Indonesia

website :  www.konsultan-franchise.com

email : djokokurniawan@gmail.com | info@djokokurniawan.com

mobile / wa : 0815 7370 9100